-->

Notification

×

Iklan

 


Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Hari Raya Ketupat: Simbol Perpaduan Ibadah dan Tradisi dalam Nuansa Syawal

| April 04, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-04-04T01:28:38Z

 

Detik35.Com

Satu minggu pasca-Idul Fitri, masyarakat Muslim di berbagai wilayah Indonesia kembali tumpah ruah dalam perayaan yang sarat makna: Hari Raya Ketupat. Tradisi ini bukan hanya ritual tahunan yang diturunkan secara turun-temurun, tetapi juga simbol kuat dari integrasi antara nilai-nilai Islam dan kearifan lokal Nusantara.


Hari Raya Ketupat dirayakan tepat tujuh hari setelah 1 Syawal, bertepatan dengan usainya pelaksanaan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Tradisi ini populer di wilayah seperti Jawa, Madura, Lombok, Kalimantan Selatan, dan sebagian Sumatra, dengan masing-masing daerah memiliki kekhasan budaya dalam merayakannya.


Dari sisi keagamaan, Hari Raya Ketupat memiliki landasan kuat dalam hadits Rasulullah SAW:


"Barang siapa berpuasa Ramadan, lalu diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa sepanjang tahun."

(HR. Muslim, no. 1164)


Berdasarkan hadits ini, umat Islam berlomba-lomba menyempurnakan ibadah puasanya dengan enam hari di bulan Syawal. Ketika ibadah itu usai, Hari Raya Ketupat menjadi momentum untuk mensyukuri nikmat dan memperkuat tali silaturahmi.


Namun, perayaan ini juga menyimpan filosofi budaya yang dalam. Dalam budaya Jawa, “ketupat” bukan hanya sajian kuliner, melainkan simbol spiritual. Kata “kupat” merupakan akronim dari:

Ngaku Lepat: mengakui kesalahan,

Laku Papat: empat perilaku spiritual—puasa Ramadan, zakat fitrah, puasa Syawal, dan salat Id.


Masyarakat Madura dan pesisir utara Jawa seringkali merayakan Hari Raya Ketupat dengan menggelar ritual ketupatan, membagikan ketupat secara massal, berziarah ke makam leluhur, hingga pertunjukan seni tradisional. Sementara di Lombok, masyarakat Sasak menyebutnya Lebaran Topat, dirayakan dengan salat berjamaah, ziarah kubur, dan pesta rakyat di pesisir pantai yang menyatukan ribuan warga.


Menurut pengamat budaya Islam Nusantara, Prof. Muhammad Zainuddin, M.A., Hari Raya Ketupat adalah bentuk ekspresi Islam yang kontekstual. “Tradisi ini bukan sekadar budaya, tetapi pengamalan nilai-nilai Islam dalam bahasa lokal. Di sinilah kekuatan Islam Nusantara: merangkul tradisi, bukan menyingkirkannya,” ujarnya dalam wawancara khusus.


Dalam konteks sosial, ketupat yang dibagikan mencerminkan solidaritas, penyucian diri, dan ajakan untuk saling memaafkan. Anyaman daun kelapa muda yang membungkus nasi adalah simbol keterikatan antar manusia yang saling membutuhkan. Ketika ketupat dibuka, isinya putih bersih—mewakili hati yang telah dibersihkan setelah Ramadhan dan Syawal.


Hari Raya Ketupat bukan hanya milik satu suku atau budaya, tapi telah menjadi warisan spiritual bangsa yang mencerminkan bahwa agama dan budaya bisa berjalan beriringan. Ia adalah perayaan kesempurnaan ibadah, sekaligus panggung kehangatan sosial dan kebudayaan yang lestari.(Redaksi)

×
Berita Terbaru Update